Skip to content

Sentimental Moods – Single Lebaran

June 8, 2018

Selamat Hari Lebaran
Gaya Kritis Versi Ismail Marzuki

2018-06-08 23.55.08.jpg

Setelah kami merilis single Natal tahun 2014 lalu, langsung banyak sekali rikues dari teman-teman pada Sentimental Moods (SM) untuk juga membuat single Lebaran. Begitu banyak aktivitas dan lain-lain, membuat rikues tersebut terus tertunda. Hingga akhirnya di bulan Ramadhan tahun 2018 ini, akhirnya SM merilis juga sebuah single Lebaran yang merupakan cover version dari lagu karya komponis besar Ismail Marzuki.

Judul lagu ini banyak sekali versinya. Ada yang bilang “Hari Lebaran”, “Selamat Lebaran”, “Mohon Maaf Lahir dan Batin”, “Selamat Hari Lebaran”, “Selamat Hari Raya Iedul Fitri”, dan masih ada lagi beberapa versi lain. Sama dengan banyak versi kapan sebenarnya lagu ini dirilis. Akhirnya kami memilih judul “Selamat Lebaran”, seperti versi pertama lagu ini yang dibawakan sebuah kelompok vokal bernama Lima Seirama dan diperdengarkan pertama kali di RRI (Radio Republik Indonesia) sekitar tahun 1952.

SM sendiri akhirnya memilih lagu ini tentu bukan semata karena menganggap lagu karya Bang Mail (panggilan akrab Ismail Marzuki) ini unik dalam struktur musikalnya (misal bagian reffrain-nya punya dua signature/birama), tapi ternyata punya historis yang unik pula. Ada beberapa latar historis yang belum tentu semua orang tahu tentang salah satu lagu Lebaran paling populer dan banyak dimainkan ulang ini (termasuk populer dan di-cover musisi-musisi di negara-negara mayoritas Islam dengan lirik berbahasa setempat, seperti di Malaysia). Dari beberapa sumber, didapat bahwa:

1. Lagu ini diciptakan Ismail Marzuki sebagai kritik terhadap kondisi sosial masyarakat Jakarta dan mungkin beberapa kota lain di Indonesia (setelah era revolusi kemerdekaan, 1950an). Bang Mail mengungkapkan pendapat sarkastis terhadap pemimpin dan para pejabat Indonesia saat itu. Yap, saat itu Indonesia memiliki sistem parlementer yang dipimpin seorang Perdana Menteri yang bergonta-ganti cepat karena konflik politik hingga tak sempat menjalani program-program yang berpihak pada rakyat. Makanya dengan sarkastis Bang Mail menyindir “Selamat para Pemimpin, Rakyatnya Makmur Terjamin…”.

2. Saat itu mulai muncul para OKB (Orang Kaya Baru, terutama dari kalangan pejabat pemerintah dan pengusaha yang sukses berkat KKN dengan pemerintah) di tengah mayoritas masyarakat yang hidupnya di bawah garis kemiskinan. Termasuk keluarga mereka yang suka memamerkan kekayaan dengan acara-acara eksklusif di kalangan mereka sendiri (dalam lirik disitir, “Kondangan Boleh Kurangin…”, mungkin sekarang seperti kaum sosialita  kali ya hehehe…), padahal hartanya ya dari hasil korupsi (cek lirik “Korupsi Jangan Kerjain…”).

3. Sementara di kelas masyarakat bawah yang secara ekonomi miskin serba kekurangan, justru budaya-budaya lama tetap terpelihara. Mereka boleh saja sehari-hari kekurangan, namun spesial untuk hari Lebaran dibela-belain membeli “… Pakaian Baru Serba Indah…”, begitu kata salah satu lirik lagu ini. Lebaran jadi momen masyarakat bawah untuk bergembira dan bertamasya, walau hanya sekadar jalan-jalan keliling Jakarta dengan Trem (semacam transportasi menyerupai kereta rel yang melintas di jalan-jalan raya, pernah ada di Jakarta dan Surabaya antara tahun 1869 dan akhirnya dibubarkan tahun 1960 karena dianggap sebagai biang kemacetan dan sering terjadi kecelakaan, terutama pada becak dan oplet – semacam angkot era itu). Dengan kocak, Bang Mail menyitir prilaku kelompok masyarakat ini yang memaksa tampil keren, baju dan sepatu baru, walau akhirnya berantakan dan kaki lecet hingga sepatu baru pun ditenteng.

4. Karena liriknya yang kritis dan satir, lagu ini sempat dilarang diputar di RRI (satu-satunya radio saat itu) di era Orde Lama (1950-1966). Akhirnya baru populer lagi di Orde Baru (1967-1998), tapi bukan versi awal yang diputar. Lagu ini dibuat ulang oleh beberapa musisi dan band untuk kebutuhan radio dan acara di TVRI (satu-satunya stasiun TV di era awal Orde Baru), namun berdasarkan instruksi pemerintah (lewat Departemen Penerangan dan Komkamtib). Bahwa bait lirik yang boleh dinyanyikan hanya bait pertama, dimaknai sebagai pujian atas kesuksesan pemerintah saat itu. Sedangkan bait lirik kedua dan ketiga yang lebih kritis dihilangkan. Bahkan nama Ismail Marzuki pun (beliau wafat 25 Mei 1958 di usia baru 44 tahun) lenyap sebagai komponisnya.

5. Akhirnya lagu “Selamat Lebaran” dengan lirik tiga paket bait ini dipopulerkan kembali di era tahun 2000an. Lewat berbagai media termasuk internet, akhirnya lagu kritis ini kembali ke asalnya sebagai lagu satir yang humoris namun kritis. Nama Ismail Marzuki pun kembali terangkat sekaligus dianugerahi sebagai Pahlawan Nasional tahun 2004. Termasuk memberikan jaminan dana dan sosial kepada janda almarhum yang sempat hidup dalam kemiskinan bertahun-tahun sejak ditinggal almarhum, serta diurus soal royalti atas lagu-lagu karya beliau.

Dirilis Sebagai Video
Single Lebaran versi Sentimental Moods ini diaransemen ulang dalam konsep hybrid, antara instrumental dan sedikit vokal dengan mengambil sebagian reffrain lagu ini. Tak seperti lagu karya Ismail Marzuki lain yang kami bayarkan royaltinya untuk mendapat hak merekam dan mengedarkannya (mau tahu lagu yang mana? Tunggu ya rilisannya hehehe), kami tak sempat mengurus royalti lagu ini. Akhirnya kami sepakat hanya merilisnya sebagai video yang diedarkan di Youtube (kasih link-nya ya).

Video ini digarap oleh Christian THP, yang tak lain road manager kami yang ternyata piawai juga sebagai videografer. Konsep cerita diolah Christian dan teman-teman SM, menampilkan tenor saksofonis kami, Yurie Fachran, ceritanya berkisar tentang momen halal bi halal SM yang memang sudah jadi tradisi di keluarga besar SM. Lokasinya pun diambil di area Cipinang dan Banjir Kanal Timur di Jakarta, di mana studio tempat kami berkarya dan kongkow berada.

Silakan dicek ya frens, dan mohon maaf lahir dan batin bila videonya kurang berkenan. Tapi bila suka, boleh kali di-subscribe, di-like, dan tentu saja disebar ke teman, keluarga, pacar, istri, suai, selingkuhan, tetangga, orang lewat… ke siapa saja deh.

Credit:
Lagu: Selamat Lebaran
Karya: Ismail Marzuki
Sutradara/Kamera/Editor: @christian_thp
Produser dan Aransemen Musik: Sentimental Moods
Perekam: Yurie Fachran dan Risto Angga di Ptiga5 Studio, Jakarta Timur
Mixing dan Mastering: Satrio Utomo di Griffin Studio
Backing Vocal : Sentimental Moods & @novelevelyn

= = = = = =

Advertisements

Sentimental Moods – Lovely Niku

September 4, 2017

Lovely Niku

Kalau boleh mengutip lirik sebuah lagu lama legendaris karya David Gates…

Everybody needs somebody…
That you can be sure of…
Life alone is nowhere that you want to be…

Bahwa semua juga tahu bila tiap manusia butuh orang lain agar bisa berinteraksi bahkan mendapat banyak masukan serta ide. Bahwa tiap manusia butuh manusia lain agar hidup mereka jadi lebih berarti. Bisa teman, sahabat, pasangan, istri, suami, bahkan anak. Yang bila diperluas, tak hanya manusia, tapi juga mahluk lainnya seperti hewan peliharaan kesayangannya. Read more…

Cerita di Balik Lagu-Lagu dalam Album “Semburat”

August 3, 2017

Cerita di Balik Lagu-Lagu Dalam

SEMBURAT

semburat

Kendala terbesar namun juga tantangan dalam menghadirkan karya musik tanpa lirik adalah intepretasi. Pesan yang diniatkan saat karya tersebut hadir, apakah mampu sampai ke pendengarnya dengan baik, atau melenceng, atau mungkin dibiarkan saja sebagai bentuk kebebasan berintepretasi. Mungkin Sentimental Moods (SM) akan memilih opsi terakhir, memberikan kebebasan seluas-luasnya pada pendengarnya untuk berintepretasi atas lagu-lagu instrumental yang dihadirkan. Selama suka dan bikin pendengar menikmatinya, ya sikat lah!

Tapi tak salah juga bila kami mencoba bercerita soal latar cerita hingga proses bagaimana tiap lagu ini tercipta. Paling tidak bisa menjadi panduan, apa sebenarnya yang coba disampaikan lagu-lagu dalam album kedua SM ini.

 

  1. Black Coffee

Dedikasi untuk minuman favorit yang harus selalu ada di tiap sesi rutin kami di studio. Bergelas-gelas kami habiskan, demi kebutuhan brainstorming ide musik, lagu, event, hingga hanya sebagai teman kami bercengkrama plus bergosip ria 😊

 

  1. On The Road

Sejak terbentuk tahun 2009, telah banyak peristiwa yang menempa kami hingga jadi seperti sekarang ini. Kami menggambarkannya sebagai sebuah perjalanan, yang memang belum selesai dan masih terus harus ditempuh. Digambarkan dalam lagu dengan tempo dinamis serta suasana fun? Ya iya lah, Sentimental Moods selalu menjalani perjalanan karirnya, dalam suka dan duka, di atmosfir yang selalu positif.

 

  1. Monk Ska

Nama Theolonius Monk tak hanya legenda di musik jazz, namun juga di antara para musisi ska. Pola harmoni yang unik dan khas dari pianis jazz eksentrik ini, sering jadi inspirasi musisi ska dari era Skatalites hingga band-band ska generasi sekarang. Termasuk membawakan ulang komposisi-komposisi orisinal Monk dalam ritmik ska. Begitu juga dengan kami, yang menjajal mengadaptasi gaya Monk tersebut dalam bentuk komposisi ska baru. Serta merta kami pun menjuluki lagu intepretasi ala SM atas Monk ini sebagai ‘Monk Ska’.

Read more…

Sentimental Moods Siap Rilis Album ke-2 bersama DoggyHouse Records

June 7, 2017

DoggyHouse Records Bersiap Rilis Album Baru Sentimental Moods, Single Youngster City Rockers dan Remix Shaggydog

Setelah lewat kurang lebih 1 bulan semenjak Digital Release album ke-2 yang bertajuk Semburat, kini Sentimental Moods bersiap untuk mengeluarkan edisi fisik berbentuk CD dan Kaset dengan menggandeng Records kenamaan asal Yogyakarta, DoggyHouse Records.

Di bulan Ramadhan ini DoggyHouse Records tidak mengendorkan laju produksi rilisan mereka. Setelah merancang program #DoggySale melalui akun Instagram @doggyhouserecs yang memberikan potongan harga sampai 50% untuk semua rilisan DoggyHouse Records, records label milik Shaggydog ini kembali ancang-ancang untuk merilis album dari beberapa roster baru mereka. Tidak hanya satu tapi 3 rilisan akan digeber sekaligus antara bulan Juni-Juli ini. Read more…

Sentimental Moods – LHAIKI (Official Video)

April 26, 2017

SENTIMENTAL MOODS

LHAIKI (Official Video)

Lhaiki is a first single from our second full album (LP), “SEMBURAT” – released in digital format at the beginning of April this year.

Read more…